Kerentanan Berlapis Dalam Perkawinan Anak: Relasi Motif Ekonomi, Dampak Psikologis, Dan Kekerasan Pada Remaja Perempuan
DOI:
https://doi.org/10.31004/sicedu.v5i3.1384Keywords:
kerentanan berlapis, kekerasan gender, perkawinan anak, remaja perempuan, kesehatan mentalAbstract
Perkawinan anak masih menjadi permasalahan sosial yang berdampak luas terhadap kehidupan remaja perempuan, terutama pada aspek ekonomi, psikologis, dan relasi gender. Penelitian ini bertujuan menganalisis kerentanan berlapis yang dialami remaja perempuan dalam perkawinan anak melalui keterkaitan motif ekonomi, dampak psikologis, dan potensi kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi dan perspektif feminisme sebagai kerangka analisis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap remaja perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun di Kota Pekalongan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya perkawinan anak. Setelah menikah, remaja perempuan mengalami kesulitan beradaptasi dengan peran sebagai istri, tekanan emosional akibat konflik rumah tangga, kecemasan sosial, hingga gejala distress psikologis yang diperkuat oleh stigma sebagai janda muda. Selain itu, ketimpangan relasi kuasa dalam rumah tangga menempatkan perempuan pada posisi subordinat yang meningkatkan risiko kekerasan verbal, emosional, dan berbagai bentuk kontrol terhadap otonomi diri. Temuan ini menegaskan bahwa perkawinan anak merupakan persoalan multidimensional yang memerlukan intervensi terpadu melalui pemberdayaan ekonomi keluarga, peningkatan akses pendidikan, dan penguatan perlindungan terhadap hak-hak perempuan.






