Sirah Nabawiyah Dalam Perspektif Multidisiplin: Integrasi Antropologi, Komunikasi, Politik, Dan Psikologi
DOI:
https://doi.org/10.31004/sicedu.v5i3.1291Abstrak
Kajian sirah nabawiyah umumnya ditempatkan dalam kerangka sejarah keagamaan dan digunakan untuk menjelaskan keteladanan, hukum, akhlak, serta perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw. Kerangka tersebut tetap mendasar, tetapi belum selalu memadai untuk membaca kompleksitas sosial yang menyertai setiap peristiwa kenabian. Artikel ini bertujuan merumuskan model pembacaan multidisiplin atas sirah nabawiyah melalui integrasi antropologi, ilmu komunikasi, ilmu politik, dan psikologi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan. Data diperoleh dari karya-karya sirah klasik, syarah hadis, tafsir, serta literatur ilmu sosial-humaniora yang relevan, kemudian dianalisis melalui pemetaan tema, kontekstualisasi historis, dan sintesis konseptual. Hasil kajian menunjukkan empat bentuk aplikasi. Pertama, antropologi membantu menjelaskan perubahan budaya masjid dan keragaman pemaknaan gelar ummi. Kedua, ilmu komunikasi menerangkan pola dakwah bertahap sebagai strategi sentrifugal yang bergerak dari relasi interpersonal menuju komunikasi kelompok dan massa. Ketiga, ilmu politik memperlihatkan Baiat Aqabah sebagai proses pembentukan legitimasi melalui kesepakatan sosial. Keempat, psikologi membaca respons Nabi pada masa Am al-Huzn melalui konsep resiliensi. Pendekatan multidisiplin memperluas fungsi sirah dari narasi biografis menjadi sumber analisis sosial dan moral yang kontekstual, sepanjang teori modern digunakan secara proporsional dan tidak menggantikan kritik sumber dalam tradisi keislaman.






